Memasuki hari kedua Ramadhan, semangat kebaikan semakin terasa di dapur kebersamaan Dulur Salembur. Jika di hari pertama suasana dipenuhi rasa haru dan penyesuaian, maka di hari kedua ini para relawan datang dengan langkah yang lebih mantap, hati yang lebih hangat, dan semangat yang semakin menyala.

Sejak pagi, aktivitas sudah dimulai. Suara wajan beradu dengan spatula, aroma bumbu yang ditumis perlahan menguar, dan canda ringan para relawan membuat dapur terasa hidup. Setiap proses memasak dilakukan dengan penuh ketulusan, karena mereka sadar, makanan yang disiapkan bukan sekadar hidangan berbuka—tetapi bentuk kasih sayang untuk anak-anak yatim yang menanti.
Menjelang sore, paket-paket berbuka kembali ditata dengan rapi. Relawan saling membantu memastikan semuanya lengkap dan tersusun baik. Ada yang bertugas mengangkat makanan, ada yang menyiapkan minuman, dan ada pula yang memastikan tempat berbuka tertata bersih dan nyaman.
Saat tiba di lokasi, anak-anak sudah menyambut dengan senyum lebar. Beberapa di antara mereka bahkan melambaikan tangan sambil memanggil, “Kakak Dapur Syurga datang lagi!” Sapaan sederhana itu membuat lelah seharian seakan terbayar lunas.
Waktu berbuka pun tiba. Anak-anak memulai dengan doa bersama. Suasana hening sejenak, lalu perlahan berubah menjadi hangat dengan suara mereka menikmati hidangan. Tawa kecil terdengar, percakapan ringan mengalir, dan kebersamaan terasa semakin erat.
Di hari kedua ini, salah satu anak bernama Rina dengan penuh rasa syukur berkata:
“Terima kasih sudah datang lagi hari ini. Kami senang sekali bisa buka bersama. Rasanya seperti punya keluarga besar.”
Sementara itu, Ardi dengan wajah ceria menambahkan:
“Semoga program Dapur Syurga ini terus ada setiap Ramadhan. Kami jadi tidak merasa sendiri.”
Ucapan-ucapan sederhana itu menyentuh hati para relawan. Mereka menyadari bahwa kehadiran dan perhatian ternyata sama berharganya dengan makanan yang dibagikan.
Hari kedua Berkah Dapur Syurga Ramadan Bersama Dulur Salembur kembali ditutup dengan doa dan foto bersama. Di antara senyum yang merekah, tersimpan harapan agar program ini terus menjadi jembatan kebaikan—menghubungkan tangan yang memberi dengan hati yang menerima.
Ramadhan baru memasuki hari kedua, namun keberkahannya sudah terasa begitu dalam. Dan perjalanan berbagi ini masih akan terus berlanjut, membawa lebih banyak kebahagiaan di hari-hari berikutnya.



